Minggu, 20 Februari 2011

Rencana Kerja dan Syarat (RKS) pada Perencanaan Bangunan [Bagian 1]


RENCANA KERJA DAN SYARAT ADMINISTRATIF [RKS Bagian 1]

Rencana Kerja dan Syarat atau yang sering disebut RKS merupakan dokumen yang berisi sekumpulan persyaratan baik persyaratan administratif maupun persyaratan teknis yang diberlakukan pada perencanaan bangunan tertentu.

Pada umumnya RKS terdiri atas RKS administrasi dan RKS Teknis. RKS Administratif terdiri dari persyaratan administrasi dan umum. Sedangkan RKS Teknis terdiri dari RKS Arsitektural, RKS Struktural, dan RKS Mekanikal Elektrikal (ME). Susunan daftar isi dalam sebuah dokumen RKS pada umumnya terdiri atas pasal-pasal.  Setiap pasal menjelaskan tentang definisi maupun kriteria persyaratan tertentu.
Dalam dokumen RKS Administrasi dan Umum, memuat persyaratan yang berkaitan dengan pelaksana pembangunan, prinsip pembangunan, rencana anggaran pelaksanaan, imbalan jasa/ honorarium, hingga pemeriksaan dan penyerahan bangunan serta pemeliharaan bangunan. Muatan yang terdapat di dalamnya diantara definisi, tugas, wewenang dan tanggung jawab, dasar hukum, maupun persyaratan yang ditetapkan pihak perencana.
Salah satu contoh dokumen RKS Administrasi dan Umum, terdapat didalamnya beberapa Pasal yakni:
1.       Pemberi Tugas
2.       Tim Pelaksan Pembangunan
3.       Dasar-Dasar Pelaksanaan
4.       Sumber Pembiayaan
5.       Prinsip Dasar Pembangunan
6.       Etika Pembangunan
7.       Persyaratan Kualifikasi Tim Pelaksana Pembangunan
8.       Rencana Anggaran Pelaksanana
9.       Jadwal Waktu Pelaksanaan
10.   Pembayaran Biaya Pembangunan
11.   Imbalan Jasa/ Honorarium
12.   Pemeriksaan dan Penyerahan Bangunan
13.   Masa Pemeliharaan
14.   Penutup
Pada bagian Penutup, biasanya disebutkan bahwa persyaratan yang belum termuat dalam dokumen RKS Administrasi dan Umum, akan diatur lebih lanjut dalam dokumen lain sesuai dengan kesepakatan.
**Bersambung... **



Sabtu, 19 Februari 2011

Pelatihan Dasar Guiding - Vulcano Tour

Senin 14 Februari 2011, bertempat di rumah Pak Naryono, Karanggeneng terselenggara Pelatihan Pemandu Wisata yang difasilitasi oleh OKP (Organisasi Kepemudaan Propinsi) bekerjasama dengan Voulcano Tour.  Vulcano Tour sendiri merupakan Pengelola Wisata Erupsi Merapi yang beberapa waktu lalu bernama Lava Tour. Pada kesempatan ini, pelatihan diikuti oleh 20 peserta dari Desa Kepuharjo, Umbulharjo, dan Wukirsari. Pelatihan ini merupakan upaya untuk meningkatkan kualitas sumberdaya manusia dalam hal ini para pemandu wisata. 
Sebuah kehormatan untuk saya dapat ikut memberi kontribusi pada kesempatan ini. Pelatihan dibuka dengan materi yang saya sampaikan tentang Pengantar Pariwisata yakni pentingnya memberi wacana kepada masyarakat khususnya para pemandu wisata di sekitar Voulcano Tour  bahwa pariwisata merupakan sektor yang sangat menjanjikan bagi perekonomian masyarakat setempat. Kebutuhan akan adanya pemandu wisata menjadi demand yang tidak terelakkan dengan adanya Wisata Erupsi Merapi ini. 
Pada pelatihan ini juga dipaparkan hal-hal yang berkaitan dengan teknis menjadi seorang guide atau pemandu wisata yang baik. Untuk materi teknis guiding disampaikan oleh Ema Rahmawati, SE., MPar. dari PAPTA (Paguyuban Pemandu Perjalanan Wisata) Yogyakarta. Memberi bekal berupa materi tentang bagaimana menjadi pemandu wisata yang baik dan komunikatif merupakan dasar yang sangat dibutuhkan. Pada pelatihan ini juga diberikan materi tentang performa atau penampilan seorang pemandu wisata mampu memberi kesan yang baik kepada wisatawan. Dengan adanya pelatihan ini diharapkan mampu memberi motivasi dan pengetahuan kepada para pemandu wisata Vulcano Tour agar semakin baik dalam menjalankan tugasnya. 
Harapan dari seluruh peserta pelatihan guiding ini, ada tindak lanjut untuk keberlangsungan profesi mereka. memiliki sebuah paguyuban sendiri bagi para pemandu wisata juga menjadi impian mereka. Bersama-sama  Vulcano Tour dan OKP semoga harapan ini dapat terwujud dan memberi kontribusi bagi perekonomian masyarakat Umbulharjo dan sekitarnya.
Red&Photo_Inayatul Ilah

Senin, 07 Februari 2011

a New Tourism Slogan of Indonesia 2011

Despite the already launched since January 1, 2011 then, was still a lot of our Indonesian citizens who don't know that our tourism slogan has changed. Initially our tourism slogan "Visit Indonesia, it is considered outdated and lacking bite. and required new imagery will be Indonesia's tourism, because it came a new slogan Indonesian tourism, 'Wonderful Indonesia'

With the slogan 'Wonderful Indonesia' is expected to describe the unity of various elements of tourism in Indonesia. Elements included in it are people, culture, national beauty, natural resources, and investment opportunity (Jero Wacik, 2010). The theme carried by the new slogans such as eco, Culture, and MICE (Meeting, Incentive, Conference, Exhibition). Selection is based on the themes emerging tourism trends and demand at this time.

Red. Inayatul Ilah 
from various sources

Kamis, 27 Januari 2011

LICENSING REQUIREMENTS FOR RESEARCH INFO

For those of you who want to study in Yogyakarta, for example for the final lecture and research in order to deepen the study of a problem in the city of Yogyakarta, it helps you to follow established procedures.
 
Procedures for research are requirements that must be met as early permission to do research. it is meant for the municipality of Yogyakarta also find activities undertaken in the city, and minimize conflict since been approved and known to several parties. mengukuti procedures or licensing requirement, it would be easier for us in doing the research, observation, interviews, and distribution of questionnaires.

Licensing requirements include:
1. Application to the Mayor of Yogyakarta which was approved by the Head of Licensing Department of the City of Yogyakarta
2. The proposal has been endorsed by relevant government institutions, Teacher / Supervisor / Lecturer, wet stempal origin researcher from the Institute
3. List of Questions / material Interviews / Questionnaire / Questionnaire signed by the Supervisor / Head of the Institution of origin researcher
4. Location / Respondents and time Implementation research / data collection (1 sheet special)
5. a red folder, and a plain white envelope with the number of copies required in accordance with + 3 sheets.
 
For example: a copy addressed to Head of Culture and Tourism and Head of Unit Malioboro, the number of envelopes that came with 2 sheets + 3 sheets = 5 pieces
File included in the red envelope, and submitted to the Licensing Research Counters number III

File submission deadline;
Monday-Thursday until 3.30 pm, and Friday until 2 pm
For more information can contact LICENSING AGENCY, Jl. Kenari No. 56, telp. (0274) 514448, 515865, 562682, Yogyakarta 55165 ZIP code.  
Email: perizinan@jogjakota.go.id, sms hotline: 081 2278 0001 .2740: hotline telp: (0274) 555242: email hotline: upik@jogjakota.go.id

Lesehan Malioboro - Jogja Culinary Tourism

Between Culinary Tourism, Nostalgia, and Unique Atmosphere
As an icon city of Yogyakarta, Malioboro does offer a variety of attractions to be enjoyed, whether for shopping, just a walk, or just sitting relaxing in front of Beteng Vredeburg. Until now, Malioboro still has a strong charisma as a place that has always been the center of attention of every tourist who comes to Jogja. Whether it's local Tourist mapun foreign tourists, almost never absent for a visit to Malioboro each time coming to a city renowned as the city of Student and Cultural city. (Haryadi Suyuti)

 

Likewise with Lesehan Malioboro (traditional restaurant) as an inseparable part of Malioboro Area as a whole that offers a variety of traditional culinary  jogja like 'gudeg', fried chicken, fried pigeon, until the seafood, the main attraction for visitors and tourists who come to Malioboro. Lesehan Malioboro in question is located in the north Jl.Perwakilan up in front of the Hotel Inna Garuda. Lesehan stalls along the street lined with various activities of an integral, hawkers, street artists, to show art that helped to enliven the atmosphere.

Had a bad image inherent in Lesehan malioboro associated with a set price and a perceived lack of comfort. Some visitors complained about high prices of food in Lesehan Malioboro. Complained about the number of hawkers passing, even singers that kept coming one after another as long as they enjoy the dish. I read a series of bitter smile vent on a site that discusses the Lesehan Malioboro.


And that makes me feel disturbed by the image that is ... in such a way Lesehan Malioboro was never empty of visitors. So, what makes people still want to come to Lesehan Malioboro? Because of that, I am interested in doing this research ... with the headline "The Effect of Product Quality Cuisine of Motivation Visits in Lesehan Malioboro" I tried to figure out what exactly is the motivation of people still visit (repeator) to lesehan Malioboro.
 
If you're one of what I mean, please to give a reason why you keep visiting Lesehan Malioboro ?....
     Because of its food and drink ?
     Because of her service ?
     Because the presentation ?
     Or because the atmosphere ?
     Or... is there another reason? ...

Ed&photo by Inayatul Ilah