Kamis, 20 Januari 2011

Kuliner Pondok Laras


Pondok Laras...Rumah makan yang terletak di Jl.Kaliurang Km.11 ini sangat cocok untuk Anda yang ingin menikmati hidangan makan bersama keluarga atau teman. Aksesnya yang mudah dijangkau karena letaknya persis di tepi jalan utama Jogja-Kaliurang, membuar rumah makan ini ramai dikunjungi terutama pada musim liburan atau pada musim wisuda.


Menu yang ditawarkan di rumah makan Pondok Laras ini adalah beragam penyetan, serta beragam nimunan. Selain itu rumah makan ini juga menyediakan paket menu yang tentunya bisa menjadi pilihan mudah bagi Anda yang datang secara rombongan, karena selain praktis juga mempercepat proses order pesanan Anda. Di rumah makan ini, Anda juga bisa memilih tempat duduk sesuai yang Anda inginkan, karena tersedia tempat duduk lesehan, pondokan kecil, maupun duduk biasa di atas kursi. Bila Anda datang bersama anak-anak, tentu rumah makan ini akan menjadi pilihan yang pas, karena anak-anak bisa bermain di playground yang tersedia di halaman samping rumah makan ini.

Adapun fasilitas yang tersedia di Pondok Laras ini diantaranya Taman Bermain Anak, Taman Lotus, Musholla, Auditorium, serta free Hotspot. Tentu tidak ada salahnya mencoba menikmati makan siang di rumah makan Pondok Laras ini, dan bersama-sama teman diskusi di rumah makan ini, tentu akan lebih menyenangkan… Selamat mencoba…


Red & Foto
Inayatul Ilah

Kamis, 13 Januari 2011

Sensasi Makan Lele - Pecel Lele Lela

Selamat Datang...Selamat Pagi Lela... teriak seorang karyawan disusul dengan sahutan rekan karyawan lainnya... Selamat pagi...
Kesan unik yang saya temui ketika masuk ke warung Pecel Lele Lela... dan tentu saja hal ini membuat saya tersenyum...

Bagi pecinta makanan ikan lele, warung makan ini saya rekomendasikan bagi Anda. Lele yang biasanya disajikan dengan bentuk gorengan biasa, di warung "Pecel Lele Lela" ini lele di goreng seperti layaknya menggoreng gurameh. Kremes... kremes... yummy...

Warung yang terletak di Jl.Affandi 6B Jogja atau lebih kita kenal dengan Jl. Gejayan ini memang termasuk baru, karena memang baru dibuka tahun lalu (bulan lalu) di Jogja. Menu yang ditawarkan juga cukup beragam, selain menu lele goreng original juga tersedia menu lele goreng tepung, lele saos padang, ayam bakar madu, ayam saos padang, dan masih ada menu lain. Anda bisa melihat menu yang lebih lengkap di website warung ini dengan cukup klik disini.

Selain ragam menu yang ditawarkan, saya juga merasa puas karena peayanannya sangat memuaskan. Selain para karyawannya ramah, pelayanannya juga cepat... Sehingga tidak sampai 10 menit sejak saya order pesanan, makanan sudah terhidang lengkap di atas meja. Pada kesempatan ini menu yang saya pesan, lele goreng tepung, ayam bakar madu, cha kangkung, dan tempe goreng... hm...yummy...

Selesai makan, saya menutup makan saya dengan menikmati es lilin Nyonya Besar rasa durian, yang kebetulan juga di jual di warung ini. Pas sesuai selera. Dari sisi rasa memang termasuk makanan yang enak (terutama lele goreng tepung-nya), jika dari sisi harga memang lebih mahal dibanding pecel lele di warung kaki lima (yang biasa saya makan)... ada harga ada barang nampaknya memang berlaku...

Yang lebih unik lagi, di daftar menu tertera dua tulisan yang dicetak tebal dengan warna mencolok bertuliskan yang ULTAH Makan GRATIS dan Yang Namanya LELA makan GRATIS SEUMUR HIDUP... Wow Mantapppp...

Saat akan beranjak, seorang karyawan meneriakkan Selamat Jalan... Terima Kasih... disusul oleh rekan yang lain... Terima Kasih...

Tertarik untuk mencoba?
Datang saja... dan semoga Anda juga merasa puas seperti saya...

Rabu, 12 Januari 2011

Shoping Centre - Book shopping center in Yogyakarta


For the citizens of Yogyakarta, surely familiar with the Shopping Center, book center located in the north of Taman Pintar is a tourist destination. The location, easily accessible and offered competitive prices make this book market is always crowded. Especially when the new school year season. Students choose the subjects to find books and reference guides for subjects in this place. In addition to many collections, ranging from old books to new books published, the book market 'shopping center' , we also can offer a given price the seller. As a result, we can get a skewed price than if we buy the books elsewhere.

In the market for this book, we can also find the clippings, magazines, books, all sorts of dictionaries, and much more. Certainly be a pleasant place for bookworms to linger find favorite book that can add to the collection.

Having tired of looking for a book or just take a walk, we can also take a break at the food court located on the west shopping. Food court is a facility provided by the Taman Pintar. So that visitors can be more convenient shopping centers. Besides food court, there are also game centre, souvenir shop, and IT outlets.
How, interested in visiting the shopping center with a variety of amenities ... come on ... come on ... we added a collection of our reading with a book shop in a Shopping Center ...

Red & Photo by Inayatul Ilah

Senin, 10 Januari 2011

Street Artist - Jogja


Gamelan sound broke the roar of passing vehicles at the intersection Ringroad Jl.Kaliurang ... Seconds that run backwards from 80 did not dampen the breadwinner was dancing in front of the vehicle is stopped waiting for the number changed to 0 and the light turns green ...


Jogja City Artists, wonder if at some crossroads town we find artists who dance to the accompaniment of gamelan (traditional Javanese music instruments). For some people, this show could become their own entertainment. Because of the unusual intersection crowded with beggars or street children change a simple art show with musical instruments and costumes are simple, too. Usually they work in groups, three or four people. There are playing gamelan, and there is dancing. With bare feet, they dance on the asphalt road that if the daytime heat would burn the soles of their. But this is the way they pursue the lawful currency on the streets. Once the second number reaches 15, the dancers finished their dance and collecting coins and paper rupiahs from riders around the scope.


When seen from afar they look really ordinary. But if observed closely as they look sometimes seem a little creepy ... ^ _ ^ because they are improvised ornamentation. To me, this is much more attractive compared to when I stopped at the intersection of the street and was approached beggars

This is just a piece of the portrait of the city of Yogyakarta with immense nostalgia ....

Red & Photo by Inayatul Ilah

Minggu, 09 Januari 2011

Sunday Morning in Jogja

Minggu pagi memang waktu yang sangat pas untuk memanjakan diri lepas dari rutinitas sibuknya hari kerja. Jogging atau jalan-jalan pagi mungkin adalah salah satu aktivitas yang cukup menyenangkan untuk dilakukan. Bagi teman-teman yang berdomosili di Jogja, saya rekomendasikan seputaran kawasan kampus Universitas Gadjah Mada (UGM) sebagai tujuan jalan-jalan pagi. Bukan karena saat ini saya adalah mahasiswa UGM, tapi memang ‘Sunday Morning’ di UGM akan memberikan pengalaman tersendiri.

Beberapa aktivitas yang bisa teman-teman lakukan dan dapatkan diantaranya:
Jogging, lari-lari kecil di seputaran lapangan Gedung Graha Sabha Pramana UGM. Sangat menyenangkan olah raga pagi ataupun sekedar jalan-jalan berkeliling melihat hiruk pikuk aktivitas pagi di sini. Ada yang bermain bulu tangkis, ada yang lari-lari pagi, ada yang bersepeda, ada yang sepak bola di lapangan depan gedung, dan ada juga yang mengajak hewan peliharaan berjalan-jalan keliling gedung Graha Sabha.
Belanja menjadi aktivitas pilihan para gadis remaja, mahasiswa, bahkan ibu-ibu yang ingin membeli aneka kebutuhan. Mulai dari pakaian, pernak pernik, perkakas rumah, mainan untuk anak, dan aneka barang yang memang beragam tersaji di pasar ‘Sunday Morning’ UGM yang hanya ada saat hari Minggu pagi. Keaneka ragaman barang yang dijual memang menjadi daya tarik bagi pengunjung, terlebih ketika kita bisa mendapatkan barang yang kita inginkan dengan harga miring. Di pasar Sunday Morning ini, kita juga bisa menawar harga untuk mendapatkan barang yang kita ingin beli. Tapi ingat, untuk pasar Sunday Morning ini buka mulai pagi sampai jam 12 saja, dan biasanya mencapai kepadatan sekitar jam 10 pagi. Sehingga jika teman-teman ingin leluasa untuk menikmati berbelanja di Sunday Morning, datang pagi menjadi solusi yang tepat.
Sarapan pagi, bisa menjadi aktivitas pilihan setelah lelah berolah raga, dan belanja. Menu yang ditawarkan juga cukup beragam. Banyaknya warung lesehan memudahkan teman-teman tuk memilik menu apa yang diinginkan. Ada pecel, lontong sayur, nasi kuning, sate padang, sate ayam dan sate kambing, juga masih banyak pilihan lain. Selain makanan besar, juga ada jajanan yang tentu disukai anak-anak, mulai dari siomay, cilok, cimol, otak-otak, tempura, sampai gulali (gula yang dicairkan sampai kental dan dibentuk sesuai yang diinginkan). Harga pun sangat variatif, dan setiap warung lesehan memiliki daftar harga. Sarapan di warung lesehan bisa menjadi pilihan yang menyenangkan bila kita datang secara rombongan bersama keluarga atau teman.

Nah, teman-teman tinggal memilih, aktivtas mana yang sekiranya menarik. Namun, ada beberapa hal yang juga harus diperhatikan. [1] Pertama, untuk area parkir kendaraan bermotor, baik roda 2 maupun roda 4, saya sarankan teman-teman memilih parkir yang terletak di sisi utara Masjid Kampus UGM dan masuk dari arah boulevard. Selain itu, jangan tinggalkan barang berharga di kendaraan ya… sekedar tindakan preventive saja, meski di area parkir juga dijaga beberapa satpam kampus. Untuk tariff parkir resmi, Rp. 1000,- untuk kendaraan roda 2, dan Rp. 2.000,- untuk kendaraan roda 4.
[2] Kedua, bawa uang secukupnya saja. Hal ini menghindari teman-teman dari pemborosan. Maklum, dengan melihat aneka ragam barang dengan harga special, kadang kita tidah terkendali membeli ini dan itu… sampai tidak terasa pengeluaran kita berlebihan. Tidak ada salahnya juga menawar terlebih dahulu harga barang yang akan kita beli. Khusus untuk makanan di warung lesehan, tidak ada salahnya juga kita melihat daftar menu dan harga sebelum memesan makanan kita. [3] Ketiga, menjadi warga yang peduli akan kebersihan lingkungan tentu tidak ada ruginya kan? Jadi, mohon teman-teman tetap menjaga kebersihan selama berada di kawasan Sunday Morning UGM dengan tidak membuang sampah sembarangan. Kebersihan menjadi tanggung jawab kita bersama teman… :)

Di kawasan pasar Sunday Morning ini, kita juga bisa melihat pertunjukan music dengan peralatan sederhana. Beberapa seniman juga kerap menghibur sembari kita menikmati sarapan pagi. Jangan salah sangka dulu teman, memang wajah-wajah seniman yang biasa kita sebut pengamen itu terlihat muda dengan penampilan yang sopan. Mereka tak lain teman-teman kita yang juga kuliah di beberapa kampus di kota Jogja. Tak jarang juga group paduan suara ikut mengamen dan tentu saja sangat menghibur. Kita bisa request lagu apa yang ingin kita dengar, dan tak jarang mereka membawa buku berisi lagu-lagu yang bisa kita pilih. Cukup menarik bukan… ^_^

Bagaimana teman, tertarik untuk menikmati Minggu pagi di seputaran Kampus UGM… silahkan saja datang, bersama teman-teman atau keluarga pasti akan lebih mengasyikkan. Bisa menjadi hiburan yang murah meriah tuk mengisi hari Minggu kita sebelum esoknya mulai dengan rutinitas pekerjaan. Tidak ada salahnya juga untuk teman-teman yang akan berkunjung ke kota Jogja memilih akhir pekan untuk bisa menikmati Sunday Morning di UGM ini.

Jumat, 07 Januari 2011

Jogja Kota Pelajar… Jogja Kota Buku



Jogja dengan serentetan predikatnya, mulai dari Kota Pelajar, Kota Gudeg, Kota Budaya, Kota Pendidikan, sepertinya akan memiliki predikat baru dengan sebutan Jokotabu alias “Jogja Kota Wisata Buku’. Bagaimana tidak, jika dalam satu tahun Jogja bisa menyelenggarakan belasan pameran buku.



Gambar 1. Gerbang Masuk Pameran Buku dengan tajuk ‘Jokotabu’, dan panggung Taman Sari

Seperti di awal tahun 2011 ini, bersama Pemkot Yogyakarta, Pemkab Sleman dan didukung oleh IKAPI, JTC (Jogja Tanggap Cepat) dan Lembaga Kemanusiaan Nasional PKPU Yogyakarta menggelar pameran buku 300 penerbit nasional “GREBEG BUKU JOGJA #2” dengan teman “menuju JOgja KOta wisaTA BUku-JOKOTABU” pada Kamis (30/12/2010) hingga Rabu (5/1/2011) di Gedung Mandala Bhakti Wanitatama Jl Laksda Adisucipto No 88 Yogyakarta.


Gambar 2. Beberapa tema yang terdapat di tiap ruang pameran

Pameran buku kali ini cukup unik, karena terdiri dari beberapa tema di tiap ruangnya. Seperti ‘Stasiun Tugu Stasiun Buku’, ‘Beteng Vredeburg’, dan ‘Pasar Buku Bringharjo’. Stand yang ada juga tidak hanya stand buku saja, ada stand pakaian, stand asesoris, stand kerajinan, serta stand makanan. Selain itu juga terdapat panggung baik di luar ruangan maupun di dalam ruangan yang digunakan sebagai tempat beberapa aktivitas lain seperti bedah buku, dialog, maupun pementasan.


Gambar 3. Beragam stand yang terdapat dalam ‘Grebeg Buku’

Pameran semacam ini memang sering diselenggarakan di Kota Jogja. Selain pameran buku, juga ada pameran computer dan pameran fashion. Dinamika masyarakat jogja dan banyaknya pelajar di kota ini menjadikan pameran selalu ramai dengan pengunjung. Karena selain menawarkan harga yang jelas bersaing disbanding hari biasa saat tidak pameran, pengunjung juga merasa terhibur dan menjadikan pameran sebagai wisata rekreasi yang murah meriah.


Antusiasme pengunjung dengan buku yang di jual dengan harga sangat terjangkau. Setelah lelah mengunjungi banyaknya stand, duduk sejenak di ‘rest area’ atau mengunjungi stand makanan bisa menjadi pilihan pengunjung

Penulis & Fotografer by Inayatul Ilah

Artikel terkait :
Grebeg Buku Jogja #2 Menuju Jogja Kota Wisata Buku
http://www.pkpu.or.id/news/grebeg-buku-jogja-2-menuju-jogja-kota-wisata-buku

Selasa, 01 Juni 2010

= Grand Lounching "Pustaka Meletik" Malioboro =


Senin, 31 Mei 2010 bertempat di Taman parkir Abu Bakar Ali Kawasan Malioboro terselenggara grand lounching “Pustaka Meletik”. Pustaka Meletik merupakan perpustakaan keliling yang diperuntukkan bagi anggota Paguyuban Malioboro. Setelah sempat melakukan soft lounching di Balaikota Yogyakarta, ide gagasan tentang pustaka mletik ini ditindak lanjuti dengan adanya grand lounching. Acara ini turut dihadiri oleh Bapak Haryadi selaku Wakil Walikota Yogyakarta, Bapak Sudjarwo Putro Ketua Paguyuban Malioboro, Kepala Bagian dari Polda DIY, Camat Danurejan, serta Kepala Pusat Pustaka Yogyakarta.

Meskipun baru berjalan 2 bulan, antusias para anggota Paguyuban Malioboro sangat besar, terbukti kurang lebih 200 peserta telah mendaftar dan mendapat kartu anggota. Selain itu, perpustakaan keliling yang biasa beroperasi tiap hari Senin, Selasa, dan Rabu ini selalu kehabisan stok buku. Kurang lebih hampir 400 buku selalu habis setiap kali para pengurus Pustaka Meletik mengedarkan buku-buku dengan cara berkeliling menggunakan troli.

Dalam sambutannya, Sudjarwo Putro selaku ketua Paguyuban Malioboro sekaligus salah satu pencetus ide pustaka keliling ini mengungkapkan bahwa keberadaan Pustaka Meletik ini merupakan sebuah usaha untuk menjadikan sumber daya manusia dalam hal ini pedagang kaki lima di kawasan Malioboro menjadi insan yang berilmu. Selain itu beliau juga menyebutkan bahwa keberhasilan Pustaka Meletik ini tidak terlepas dari adanya dukungan dari berbagai pihak, support dari bapak Heri Zudiyanto sebagai Walikota Yogyakarta memberi semangat yang luar biasa, bahkan nama “Meletik” merupakan sumbangan dari Bapak Walikota sendiri yang saat ini menjadi Pembina bagi Pustaka Meletik. Pentingnya berdiri di kaki sendiri juga menjadi penekanan yang disampaikan beliau, yakni bagaimana nantinya Pustaka Meletik bisa menghidupi segala aktivitas di dalamnya tanpa bergantung pada siapapun. Tentunya dengan semangat dan kerjasama seluruh anggota Pustaka Meletik ini.

Beliau juga memberikan apresiasi kepada para mahasiswa Ilmu Komunikasi Massa dari Universitas Cokroaminoto Yogyakarta (UCY) yang tergabung dalam Forum Mahasiswa Peduli (FOMPI) atas kepeduliannya terhadap Pustaka Meletik. Dalam kegiatan ini FOMPI yang sepenuhnya didukung oleh UCY menyerahkan sumbangan berupa troli dan buku bacaan yang diserahkan langsung secara simbolik oleh Bapak Haryadi selaku Wakil Walikota Yogyakarta dan Ibu Iin Sunny Atmaja selaku Rektor I Universitas Cokroaminoto, kepada para pengurus Pustaka Meletik. Dengan kegiatan semacam ini diharapkan adanya sinergitas antara civitas akademika dengan usaha peningkatan kualitas SDM dalam hal ini anggota Paguyuban Malioboro.

Red&Foto: Inayatul Ilah N.